Ikhtiar Membangun Gerakan yang Meluas, Dimulai dari Rimpang
oleh DERA
Sore, 17 Mei 2025. Jalanan terasa lebih ramai dari biasanya. Aspal basah selepas hujan dan matahari yang muncul malu-malu di sebelah barat membuat suasana macet tidak begitu memusingkan. Biasanya aku selalu duduk di jok belakang, dengan kekasihku yang memegang kendali motor. Tapi nyaris dua minggu ini aku selalu bepergian sendiri. Ingatanku menerawang kejadian pada awal Mei lalu. Aksi peringatan Hari Buruh yang terjadi begitu cepat menjadi pukulan mundur yang begitu terasa hingga sekarang. Delapan kawanku ditahan dan di media sosial kami mendapat caci maki. Entah dari masyarakat umum atau buzzer, aku tidak begitu paham, yang jelas kawan-kawanku mundur perlahan.
Sampai di kamar kosku yang tak begitu luas, aku berbaring, kemudian meringkuk.Aku berpikir keras dan mulai menyalahkan aksi yang terjadi pada satu Mei itu. Namun hati kecilku selalu bilang, “Tenang, itu konsekuensi dari sebuah gerakan. Tidak salah siapapun, sabar!”. Aku kembali berpikir, menelaah setiap gerakan yang terjadi dan sedang diupayakan. Tidak ada yang salah, hanya kurang di beberapa bagian.
Waktu terus berlanjut, hingga suatu malam pada 10 Juli 2025 aku menemukan sebuah tulisan tentang opini yang mempertanyakan perihal gerakan rimpang. Pada salah satu kontak grup, diskusi bergulir. Aku enggan menanggapi tapi aku teringat refleksiku bulan Mei lalu perihal bagaimana gerakan sosial ini bekerja. Setidaknya aku berniat menuliskannya, bukan sebagai bantahan atas opini yang dilemparkan oleh Abdil Mughis Mudhoffir di website Indoprogress itu, tapi untuk mengatakan, “Hei bung, gerakan sosial yang disebut rhizomatik tidak sesederhana itu. Dan membangun gerakan sosial ala gerakan kiri 1930-an perlu waktu, dan kini sedang diupayakan!”.
Apa yang kita sebut sebagai gerakan rimpang? apakah gerakan sporadis, spontan, dan tercecer di mana-mana? Di Semarang, diskusi soal model gerakan yang sporadis dan spontan, khas dengan gerakan yang dianggap reaksioner ini sudah bergulir lama. Setidaknya sudah sejak aksi penolakkan RKUHP tahun 2022. Aksi besar yang terjadi nyaris setiap ada kebijakan baru, atau aksi-aksi setiap peringatan hari tertentu seperti May Day bukanlah gerakan reaksioner atau spontan–-yang setelah aksi selesai, dan kembali ke kehidupan individu.
Gerakan sosial yang dibangun ini tidak nampak di permukaan sehingga banyak orang menyebut gerakan semacam ini tidak ‘revolusioner’. Akan tetapi, yang luput dari perhatian adalah bagaimana kerja-kerja yang dipersiapkan di dapur gerakan sosial. Melatih diri dengan aksi dan pendidikan politik setiap minggu, menyebar dan menjalar dari satu kolektif ke kolektif lain, menciptakan dan merebut ruang. Kami menyebut ini sebagai gerakan rimpang, yang menjalar dan saling terhubung.
Gilles Deleuze dan Félix Guattari (1980) yang mungkin pertama kali membahas gerakan sosial rimpang dalam karyanya A Thousand Plateaus—sekalipun tidak secara gamblang menyebutkan rimpang sebagai metode gerakan sosial—menyebutkan bahwa sebuah rhizome (rimpang) secara terus-menerus membangun koneksi antara rantai semiotik, organisasi kekuasaan, dan keadaan yang berkaitan dengan seni, sains, dan perjuangan sosial (hlm. 6). Semuanya saling terhubung, dan memiliki kaitan di antara persimpangan. Pada berikutnya, dia melihat jalinan rimpang sebagai dimensi yang berdiri dengan arah geraknya sendiri, “…berbeda dengan pohon atau akarnya, rimpang menghubungkan setiap titik dengan titik lainnya, dan sifat-sifatnya tidak selalu terkait dengan sifat-sifat yang sejenis; …Ia terdiri bukan dari unit-unit, melainkan dari dimensi-dimensi, atau lebih tepatnya arah-arah gerak. Ia tidak memiliki awal maupun akhir, tetapi selalu memiliki tengah (milieu) dari mana ia tumbuh dan meluap melampauinya (hlm. 21).”
Seperti kata Deleuze dan Guattari, bahwa rimpang tidak selalu homogen. Setiap kolektif dan komunitas yang berupaya mewujudkan perubahan sosial beranak pinak dengan metode dan cara kerja masing-masing. Apakah ini lahir dari ruang yang hampa? Tentu tidak. Ada banyak hal yang melatarbelakangi pilihan masing-masing. Dari analisis sosial yang dilakukan semai bersama kelompok orang muda di Kota Semarang misalnya, menunjukkan bahwa generasi yang terlahir setelah tahun 2000 tidak banyak terhubung dengan narasi-narasi kritis terlebih tentang gerakan besar yang terorganisir dari zaman kolonial maupun gerakan buruh-tani yang kondang di bawah naungan PKI—yang sayangnya dimusnahkan sejak 1965. Imbas pembungkaman politik 32 tahun Orde Baru, hari ini kalangan muda cukup berjarak dengan bagaimana semangat gerakan dibangun secara terorganisir dan berada dalam naungan yang terpimpin. Stigma buruk terhadap gerakan kiri yang terorganisir dalam satu naungan masih kental melekat. Percayalah trauma turunan ini masih ada dan menjadi salah satu konteks mengapa kerimpangan ini menjalar lebih cepat!
Jutaan anak muda menatap masa depan dengan hampa, kemiskinan terjadi dan begitu terasa. Pun begitu dengan kelas bekerja–-baik yang bekerja di pabrik maupun menjadi buruh di sektor lain—juga menyongsong masa depan yang kian suram. Tapi, mengapa kondisi ini belum memunculkan gerakan sosial yang besar, terorganisir, dan sistematis di bawah kepemimpinan tertentu? Menurutku karena mereka jauh dari ruang-ruang pergulatan diskursus politik, gerakan sosial, dan imajinasi tentang hidup tanpa penindasan. Waktu kita dihabiskan di depan mesin-mesin, atau di bawah tangan para pemodal. Sejalan dengan hipotesis Marx bahwa “kapitalisme membuat kelas pekerja teralienasi.”
Apakah gerakan sosial akan berhenti dengan trauma bayang-bayang pembantaian orang-orang yang dianggap kelompok kiri pada 1965 dan kemandegan diskursus kapitalisme? Tentu tidak. Upaya membangun gerakan sosial yang lebih besar terus dilakukan. Membangun kelompok-kelompok gerakan kecil yang menjalar—dan kemudian menghubungkan sekalipun tidak sejenis namun bersinggungan. Seperti yang pernah dilakukan oleh Sneevliet, Semaun, dan Moenasiah pada paruh pertama kemunculan gerakan kiri di Semarang. Meraka tidak lantas serta merta membangun gerakan kiri dengan satu komando di bawah naungan Sarekat Islam. Ada kerja-kerja menumbuhkan rimpang-rimpang pada kelas buruh kereta api dan perkebunan. Kepemimpinan proletariat tidak lahir tiba-tiba.
Pertanyaannya, apakah model gerakan sosial semacam rimpang ini bisa menggulingkan kekuasaan yang tiran? Atau seperti yang dibilang oleh Marx, bahwa revolusi bisa terjadi dengan penyatuan kekuatan proletariat untuk merebut kuasa.
Kepemimpinan Proletariat, Merebut Kuasa!
Seperti halnya dengan kritik terhadap gerakan rimpang yang ‘sedikit banyak absen’ terhadap diskursus kelas dengan tidak banyak yang melihat hubungan kapitalisme, negara, dan pertentangan kelas serta dinamika internal dan urusan dapur yang seringkali mudah roboh, praktik model kesatuan gerakan terpimpin juga perlu tambal sulam untuk menjadi gerakan yang lebih besar.
Pada Februari 2025 semai bertandang ke rumah penyintas korban pelanggaran hak asasi manusia 1965 di Kabupaten Pati. Siang itu, selepas makan siang, obrolan menghangat ketika membicarakan tentang bagaimana pembantaian 1965 dilakukan. Laki-laki dengan umur yang nyaris satu abad itu berbicara dengan berapi-api. Keterlibatannya dalam organisasi terpimpin dan kelompok seni kala ia remaja. Perlahan kelompok tersebut berubah menjadi lebih provokatif, banyak berbicara tentang hak, pendidikan, dan banyak permasalahan sosial lainnya. Ia lantas menerawang lebih jauh lagi. Dengan gurat kesedihan yang begitu kentara, ia menyampaikan kekecewaan luar biasa terhadap pemimpin CC PKI waktu itu yang tidak mengambil respon segera dan balasan sehingga membuat jutaan kawan-kawannya meninggal sia-sia dan menjadi tahanan politik. Ia menyesali mengapa, tidak segera mengambil sikap di daerah, dan malah cenderung pasrah.
Model hirarkis ternyata juga menimbulkan masalah yang mendalam. Trauma itu masih ada hingga menurun kepada anak cucu, sehingga ia memilih untuk bekerja dalam senyap dengan bergabung dengan kelompok korban 1965 dan perlahan-lahan saling memulihkan. Ketika kami bertanya perihal bantuan langsung tunai (BLT) yang diberikan negara kepada penyintas, ia menjawab dengan tersenyum. Di tengah himpitan kapitalisme, pemiskinan pasca pembantaian 1965 dan stigma yang melekat bersamaan dengan trauma, bantuan dari manapun pada akhirnya menjadi pilihan. Bukan kalah atau gagal, tapi strategi bertahan hidup juga perlu dipikirkan.
Semarang juga memiliki pengalaman serupa baru-baru ini. Ketika situasi gerakan tengah menghangat dan letupan-letupan kecil muncul, ada kelompok yang lebih besar yang mencoba mendorong gerakan melalui model kerja sentralistik yang terkomando dan serentak dalam upaya merebut kuasa dan ruang. Sayang usaha-usaha tersebut kandas karena menghadapi kenyataan objektif tentang kematangan politik hingga ketidakstabilan kepemimpinan dalam menghadapi situasi.
Pun dengan buruh yang hematku adalah bagian dari orang muda dengan masa depan yang nampak suram layaknya kita telah bertahun-tahun membicarakan dunia tanpa kapitalis, juga pecah berserak dengan hadirnya organisasi terpusat terpimpin mewujud dalam bentuk partai. Jangan-jangan ini yang menghambat revolusi, alih-alih gerakan rimpang yang beragam dan menjamur itu. Kegagalan itu bukan terletak pada niat membangun struktur, melainkan pada ketidaksesuaian bentuk dengan medan perjuangan yang terus berubah.
Apa yang dikatakan Marx dengan“kaum buruh seluruh dunia bersatulah merebut kuasa!” memerlukan metode yang lebih segar dengan fakta objektif lapangan yang lebih jelas. Di situasi kapitalisme yang semakin erat dengan negara, ketegangan antara kelas proletar dan borjuis atau pun kekuasaan kadang-kadang tidak begitu kentara. Serta penindasan yang terbalut dalam program-program yang sialnya dianggap manis bagi jutaan rakyat Indonesia ini. Maka adalah pilihan rimpang sebagai model gerakan sosial tidak ada soalnya–hanya perlu menambal sisi yang kurang–pendidikan politik, membangun aliansi. Di situasi semacam ini, strategi bertahan sembari mencari jalan, patut disyukuri. Hopla!
Salam hangat dariku, pekerja prekariat yang tidak sanggup tungkus lumus membentuk gerakan yang hirarkis itu.
adminbersemai

Leave a Reply