Taman 65, Sebuah Ritus Memori Anak untuk Orang Tua yang Dibunuh Negara – Bagian 3
oleh Made Gula
Kunjunganku selanjutnya ke Taman 65 bersama Agung Alit juga terjadi saat sore hari. “Mau ada yang berkunjung ke Taman 65, dia saksi peristiwa 1965 di daerah Kapal”. Aku langsung setuju dan sepertinya akan menjadi sore yang lebih menarik dari kunjungan pertamaku, anggapku. Agung Alit masih mengambil tindak di depan kemudi. Tidak lama setelah kami sampai, terdengar suara kendaraan yang mengarah mendekat ke Taman 65. Terlihat laki-laki yang sudah berumur 81 tahun itu datang dan mengendarai sendiri sepeda motor tua dengan barang bawaan yang cukup riweuh dibagian depannya plus box di bagian belakang. Kami mendekati, tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah lukisan Dewi Saraswati berukuran sedang sebagai buah tangan buah karya sendiri dan menyerahkan secara cuma-cuma untuk Agung Alit.
Dari sini aku baru tahu orang tua ini seorang pelukis ahli. Kami bertiga sekejap memandangi lukisan itu, lukisan dengan pilihan warna yang cukup cerah. “Saya melukis ini cukup lama, proses pewarnaanya yang memakan waktu. 3 kali tumpuk warna” dijelaskan I Wayan Bratayasa. Sebelumnya, ternyata sudah ada 1 lukisannya pada ruangan taman 65, tertempel didinding lukisan perempuan bertelanjang dada menggondong anak kecil. Lukisannya berjudul kasih ibu, sebuah lukisan bergambarkan gaya pakaian perempuan Bali zaman dulu. Pada lukisan Kasih Ibu itu, Wayan menggunakan teknih realis, dan hanya berwarna hitam dengan latar putih. Jadilah ada 2 lukisan karya Wayan di Taman 65.
Setelah kami sekejap beramah-tamah dan swafoto bersama lukisan baru di bawah dengan sebuah lukisan yang telah terpasang di dinding yang sebelumnya telah I Wayan berikan, beliau mengisi daftar tamu. Lalu duduklah kami di dekat tulisan “Taman 65”, pada sebuah kursi dengan meja kecil yang dibuat dari tong besi dan dicat warna merah dengan tulisan putih berbunyi “taman 65 for the truth”. Aku menyiapkan kursi, sedangkan Agung Alit memesan tiga gelas kopi hitam. “Akhirnya sampai di tempat ini, sudah lama ingin berkunjung tapi baru jadi hari ini”, Wayan memulai pembicaraan. “Ya, ini Taman 65 buat mengenang bapak. Ini bekas kamarnya”, Wayan langsung menggelengkan kepala seperti menjelaskan perasaan bersedih yang menahun. Maklum, Wayan adalah saksi langsung peristiwa ngeri itu. Aku hanya diam mendengarkan dua orang itu saling berbicara bergantian.
“Apa yang Pak Wayan saksikan pas 65 itu?” Agung Alit bertanya. “Saya juga hampir dieksekusi”. Aku tersontak. Namun lantas bersyukur karena belia selamat, meneruskan hidup, dan kini duduk di depanku bersaksi atas kekejaman itu. “Saya hampir dieksekusi karena dianggap anggota IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia, dianggap underbow PKI-red.) padahal saya GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia, dianggap underbouw PNI-red.), dalam sekelas itu bercampur macam-macam latar belakang organisasi, ada yang GSNI ada yang IPPI. Saya GSNI, kebetulan salah satu teman baik saya anggota IPPI, lantaran itu saya juga dianggap IPPI dan hampir diangkut sebelum saya berhasil menunjukan kartu anggota GSNI yang saya miliki”. Memang begitu banyak korban 1965. Hampir setiap orang menngalami kerentanan dan kemungkinan yang begitu besar untuk masuk dalam daftar nama antrian penyembelihan, penembakan, atau apapun cara pembunuhan. Setiap orang bisa yang memiliki kuasa bisa dengan mudah menunjuk “dia PKI” terhadap siapapun atas motif apapun, dan jagal akan mengerjakan sisanya.
Ketika babak yang hampir menewaskannya itu selesai diceritakan, pesanan tiga gelas kopi hitam dengan gula yang terpisah dalam satu gelas yang lain datang. Kami mengatur posisi gelas-gelas yang baru datang itu di atas meja. Semua gelas sudah duduk dengan aman, kami menjeda pembicaraan dengan masing-masing menikmati kopi yang masih panas. Setelah mencecap kopi, aku sendiri mengambil asbak. Seperti makan tanpa minum rasanya kalau minum kopi tanpa merokok. Sesaat setelah aku membakar rokok, Agung Alit melanjutkan pembicaraan. “Pak Yan saksikan situasi 65?” Suara yang khas keluar dari mulut orang berumur 80 tahun lebih tersebut. Pelan-pelan ingatannya disusun ulang dengan volume suara sewajarnya, Wayan menjawab “Ya menyaksikan, waktu pulang sekolah aku melihat mayat-mayat ditutup daun pisang di pinggir jalan. Aku cuma terus naik sepeda, ngga berani lihat. Kasihan, sedih, begitu banyak orang tidak bersalah dibunuh”.
Wayan dengan jelas menampakan emosi ketika menceritakan perasaanya mengingat apa yang dia lihat di pinggir-pinggir jalan sepulang sekolah dulu. Memori Wayan bersepeda sepulang sekolah itu tidak semujur memori kita ketika bersepeda di Sanur sore-sore. Kita dapat melihat wisatawan dan deretan tenan FnB di sepanjang jalan, sedangkan Wayan melihat mayat sekira sepuluh badan yang ditutupi daun pisang. Jumlah sebanyak sepuluh badan itu tidak dilebih-lebihkan, malah barangkali bisa lebih karena Wayan menyampaikan sejumlah sepuluh badan itu adalah angka mininal yang bisa dia pastikan dari sisa-sisa ingatannya.
Lebih-lebih melihat yang disampaikan John Roosa dalam bukunya berjudul Riwayat Terkubur, jumlah korban kejahatan kemanusiaan 1965 di Bali mencapai 80.000 jiwa. Bayangkan, wilayah Bali dengan luas wilayah 559.000 hektare, maka dalam satu hektar tanah akan ada tujuh jiwa korban. Dengan rata-rata tinggi badan manusia Indonesia adalah 160 cm, jika membuat garis dari mayat sebanyak 80.000 jiwa maka kita akan saksikan barisan mayat sepanjang 128 kilometer, kurang 30 kilometer membentuk garis keliling Pulau Bali. Kalian bisa menggunakan perandaian yang lain untuk melihat bagaimana kejahatan kemanusiaan 1965 memakan korban yang sangat massal.
“Juga saya dua kali melihat proses eksekusi”, Wayan meneruskan, “Yang pertama, ada teman saya, kakaknya anggota PKI. Digeruduk sama tentara bawa mesin tembak. Pas kakaknya mau ditembak, teman saya memeluk kakaknya dan ikut menjadi sasaran mesin tembak. Kakak adik mati berpelukan ditembak tentara”. Adegan ini diceritakan oleh Wayan dengan sangat ekspresif, bahkan juga rekonstruktif, bercerita sambil seolah-olah memegang mesin tembak lengkap dengan mengeker juga menirukan suaranya.
“Kasihan temanku sama kakaknya itu. Yang kedua…” Wayan kembali melanjutkan “Saya diperintah untuk ikut melihat eksekusi. Saya tidak berani menolak. Kelihatan tameng-tameng itu bajunya hitam semua bawa klewang. Di satu tempat, saya sudah melihat ada tameng dengan calon korbannya. Di situ saya baru tahu, ada beberapa tameng yang sebetulnya menolak melakukan eksekusi. Tapi mereka lebih takut jika menolak perintah, maka dia sendiri yang akan dieksekusi. Semua orang menyelamatkan hidupnya sendiri-sendiri, hilang nurani. Tameng itu terus melakukan eksekusi, memukuli targetnya pakai kayu sampai mati. Itu dilakukan di depan saya, saya cuma bisa lihat. Andai saya sudah punya kodak, saya akan foto peristiwa itu biar bisa jadi bukti”.
Sore itu benar-benar menjadi sore yang mengerikan, mendengar sebuah kesaksian dari saksi hidup peristiwa genosida. Meski ini bukan kali pertamaku mendengarkan kesaksian, situasi seperti ini cukup menguras emosi dan energi, kadang juga terbawa mimpi. Merasakan begitu getirnya hidup mereka malang menjadi korban kekerasan negara. Sarwo Edhie Wibowo yang dalam peristiwa itu berstatus sebagai Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) mengklaim sudah menghabisi tiga juta jiwa, meski jumlah ini disangsikan oleh banyak peneliti. Hingga hari ini, belum ditemukan angka pasti berapa korban jiwa sesungguhnya. Semoga segera terjadi penyelesaian secara yudisial oleh negara untuk mengungkap semua pertanyaan seputar 1965, baik secara jumlah korban jiwa, korban yang menjadi tahanan politik, pengungkapan pihak yang terlibat dalam pembantaian dan masuk dalam proses pengadilan, hingga pemulihan bagi korban dan keluarga korban. Meski tentu harapan ini bagai pungguk merindukan bulan, tapi harapan harus tetap dipelihara. Taman 65-lah pemelihara harapan itu melalui kerja-kerja penyadaran untuk ikut membentuk generasi baru yang menghapus impunitas dan menciptakan sejarah pembebasan. La Historia Me Absolvera!
Setelah kami cukup lama mendengar Wayan bercerita, datang Ibu Mayun, kakak sulung Agung Alit untuk turut bergabung. Agung Alit menjelaskan siapa Wayan ini kepada Mayun, langsung bergidik tubuhnya mendengar penjelasan bahwa Wayan ini adalah saksi atas peristiwa 1965 di Kapal, satu kelurahan di sekitar Kecamatan Mengwi. Agung Alit mengulang cerita Wayan yang sekiranya perlu untuk diketahui Mayun, dari Wayan hampir menjadi korban eksekusi hingga ia menjadi penyaksi eksekusi. Mayun mendengar dengan cermat sambil merinding beberapa kali ketika cerita masuk dalam tangga dramatis yang mengerikan. Mayun tentu merasakan betul kengerian itu. Beliau sudah cukup umur untuk melihat peristiwa itu ketika terjadi, berbeda dengan Agung Alit yang belum penuh kesadarannya sebagai anak kecil saat itu. Ingatan Agung Alit melompat pada hidup sebagai seorang yatim.
Pada sisa pembicaraan, Wayan bertanya, “Di sini di mana penjual arak? Tempatku biasa beli arak tutup”. Kami kaget, lebih-lebih Agung Alit. “Pak Yan masih minum arak? Mau saya carikan?” tanya Agung Alit untuk memastikan. “Iya masih, tapi sedikit saja kalau pagi. Cukup satu sloki dicampur kopi. Itu bagus buat badan, di badan rasanya hangat”. Sebuah tips yang menarik perhatian kami. Tidak lama salah satu anak laki-laki Mayun datang dan kebetulan membawa arak. Jadilah arak itu dipersembahkan untuk Wayan. “Jangan diminum sekarang Pak Yan. Perjalanan pulang Pak Yan jauh dan ini sudah terlalu sore, jalanan juga macet bahaya untuk Pak Yan”. Seperti baru menyadari waktu, Wayan memutuskan untuk pamit. Berkendara sendirian dengan sepeda motor lawas, ikut berselisih jarak dengan pengendara lain di jalan macet Bali sore-sore hampir gelap. Wayan pulang, dan menghilang.
Hari menjadi cepat lebih gelap sepulang Wayan, sembari hati was-was mengkhawatiri Wayan di perjalanan. Beberapa kali kami melamun, melihat mata Agung Alit dan Mayun mengambang hampir kosong belum move on dari kesaksian Wayan. Agung Alit ambil tindakan memesan makan mengisi waktu melamun, tiga porsi Tipat ia mintakan. Jelas aku tidak mengerti makanan macam apa itu, aku hanya mengiyakan, karena sedikit saja aku punya masalah dengan jenis makanan, jadi pikirku Tipat tidak akan jadi masalah besar untukku.
Setelah tiga piring Tipat itu datang, barulah aku mengerti makanan apa itu. Akan disebut Pecel kalau dihidangkan di Jawa. Persis. Beberapa jenis sayur rebus, tahu, ketupat dan disiram sambal kacang, hanya saja di Jawa menggunakan lontong bukan ketupat. Ya tapi tetaplah sama, ia nasi yang dimasak dengan padat, hanya berbeda daun pembungkusnya. Lontong dengan daun pisang sedang ketupat dengan daun kelapa yang masih muda atau yang lumrah disebut janur. Juga bentuknya, Lontong berbentuk lonjong, sedang ketupat berbentuk segi empat. Kami menyantapnya dengan lahap hingga habis sepenuhnya.
Memakan Tipat, makanan dengan penuh sayur itu, membawa pikiranku pada sayur genjer. Sayur dari tumbuhan genjer yang habitatnya biasanya ada di sekitar sawah atau genangan air yang menahun. Genjer tumbuh secara liar, bukan tanaman atau sayur yang spesial seperti sayur lainnya bahkan genjer sering dianggap hama. Genjer adalah makanan “wong cilik”, sebuah sayur yang befungsi sebagai benteng pertahanan orang-orang miskin dalam situasi tertindas. Dari itulah lagu Genjer-genjer diciptakan untuk memberi gambaran bagaimana situasi ekonomi masyarakat kecil korban penindasan di bawah pendudukan Jepang. Lagu Genjer-Genjer ini seperti menjadi anthem bagi PKI. Menyanyikannya seperti sedang membangkitkan kesadaran bahwa kita pernah mengalami situasi sulit semacam itu, dan dengan menyanyikan Genjer-genjer, kita sekaligus sedang bertahan memperjuangan perbaikan nasib dan menolak kembali kepada situasi terjajah.
Dari Tipat dan Genjer-genjer, pikiranku dicegat oleh pertanyaan bagaimana dan situasi macam apa yang Mayun dan Agung Alit serta anak-anak I Gusti Made Raka B.A lainnya lewati. Lebih-lebih perjalanan itulah yang mempengaruhi dan membentuk orang-orang tersebut sebagai pribadi yang tangguh juga berpandangan maju. Betapapun barangkali tulisan perjalanan dan impresi ini bukan tulisan terbaik yang pernah kalian baca, semoga setidaknya menumbuhkan simpati, empati, atau bahkan keberpihakan kepada korban-korban tragedi kemanusiaan, lebih-lebih yang dilakukan atas nama kekuasaan.
HOPLA!
adminbersemai

Leave a Reply